Sponsors Link

Ketahui 7 Jenis Hujan dan Proses Terjadinya

Sponsors Link

Hujan adalah proses penguapan yang terjadi di permukaan bumi dari air, tumbuhan, atau tanah. Proses terjadinya hujan berkaitan dengan siklus air, siklus ini menyebabkan air jatuh dari atmosfer ke permukaan bumi.

ads

Kondisi udara yang dingin dan suhu yang rendah juga berperan penting dalam hujan yang turun ke bumi. Selain itu, bentuk tetesan air hujan berubah karena keadaan uap air yang terus tumbuh secara sporadis, serta terdapat tetesan air yang besar dan kecil. Baca juga penyebab eutrofikasi pada sungai.

Tahap Proses Terjadinya Hujan

Siklus hujan terjadi dalam lima tahap: penguapan, transpirasi, kondensasi, adveksi, dan presipitasi. Berikut adalah tahapan proses terjadinya hujan beserta penjelasannya.

1. Penguapan

Tahap pertama dari proses hujan adalah tahapan Evaporasi. Evaporasi merupakan proses terjadinya penguapan air karena sinar matahari.

Penguapan mengubah wujud air menjadi gas, panas yang diterima menyebabkan molekul-molekul di dalam air bergerak lebih cepat dan saling bertumbukan.

Menyebabkan beberapa molekul pada akhirnya akan berpisah dari molekul lainnya dan berubah menjadi uap air.

2. Transpirasi

Transpirasi adalah proses di mana air menguap dari tanaman melalui stomata atau mulut daun.

3. Kondensasi

Uap air yang naik melalui proses kondensasi (pendinginan mengubah uap air menjadi air) di awan. Bentuknya berubah karena efek suhu yang lebih rendah di ketinggian ini. Baca juga manfaat mempelajari ilmu geografi.

4. Konvergensi

Konvergensi adalah proses dimana air bergerak secara horizontal melalui atmosfer dalam bentuk padat, cair, atau uap karena perbedaan tekanan atmosfer.

Proses fluorescent membantu memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain. Jika tidak menyatu, air yang menguap di laut tidak bisa jatuh di darat sebagai hujan.

5. Presipitasi

Tahap ini adalah tahap turunnya hujan. Presipitasi adalah proses dimana uap air yang mengembun jatuh ke permukaan bumi dalam bentuk hujan. Hujan bisa datang dalam berbagai bentuk, termasuk air hujan, hujan es, dan hujan salju. Untuk curah hujan sendiri setiap harinya sekitar 300 kilometer kubik setiap hari.

Seperti diketahui, curah hujan di Indonesia mencapai 2000mm/tahun, namun sebaran curah hujan di Indonesia belum merata. Menurut Badan Meteorologi, Iklim dan Geofisika, wilayah dengan curah hujan tertinggi adalah Baturaden di lereng Gunung Slamet, dengan curah hujan rata-rata sekitar 589 mm/tahun. Baca juga jenis gunung berapi berdasarkan hasil erupsi.

Jenis hujan

Jika Anda sudah mengetahui proses terjadinya hujan, komposisi hujan juga terlihat berbeda-beda tergantung pada daerah tempat terjadinya. Berikut beberapa jenis hujan beserta penjelasannya.

  • Hujan Zenithal atau Konveksi

Hujan Zenithal atau Konveksi adalah hujan yang disebabkan oleh suhu yang tinggi. Jenis presipitasi ini terjadi di daerah khatulistiwa yang intensitas panas mataharinya lebih tinggi daripada di daerah lain.

Angin kemudian bertiup dari wilayah bertekanan tinggi ke wilayah bertekanan rendah. Semakin tinggi suhu, semakin rendah tekanan udara, dan sebaliknya. Sehingga semua angin dari kedua sisi garis lintang menuju ke arah ekuator.

Di ekuator, angin bertiup secara vertikal dan naik ke atmosfer. Ketika naik ke atmosfer, ia tentu saja membawa uap air yang menguap karena panasnya matahari. Baca juga sungai terpanjang di Asia Tenggara

  • Hujan Orografis

Hujan orografis adalah hujan yang disebabkan oleh angin yang mendorong udara yang mengandung uap air ke lereng gunung, sehingga jatuh pada lereng yang terlewatinya.

Ketika mencapai titik tertinggi, terjadilah hujan, dan ketika angin bertiup ke sisi lainnya maka udara yang dibawanya tidak lagi mengandung uap air, sehingga terjadilah kekeringan.

Daerah yang terkena angin kering disebut daerah bayangan hujan. Menurut proses pembangunan, itu adalah hujan di daerah pegunungan.

  • Hujan Frontal

Hujan frontal adalah hujan yang terjadi di bagian frontal, tempat bertemunya massa udara bersuhu tinggi (hangat/tinggi) dan bersuhu rendah (suhu rendah). Area frontal menjadi tempat bertemunya udara dingin dan panas.

  • Hujan Muson

Muson adalah periode hujan yang disebabkan oleh angin muson barat yang bertiup dari benua Asia ke benua Australia.

Angin musim barat lalu bertiup ke wilayah Indonesia. Hujan muson memiliki ciri khasnya tersendiri dan berbeda dari hujan lainnya.

  • Hujan Asam

Sesuai dengan namanya, hujan asam adalah hujan asam dengan pH sekitar 5,6. Kalau hujan normal biasanya pH 6. Oleh karena itu, ciri-ciri hujan asam adalah pH-nya lebih rendah dari pada hujan normal.

Lalu apa Penyebab turunnya Hujan Asam? Penyebab paling besar adalah polusi udara akibat pembakaran dari bahan bakar fosil serta nitrogen sehingga menghasilkan nitrogen oksida (NOX) dan sulfur dioksida (SO2)   

  • Hujan Buatan

Salah satu cara pengendapan adalah dengan menyemprotkan zat higroskopis seperti garam atau kalsium klorida (CaCl2) sekitar 1-2 km di atas permukaan laut pada pagi hari.

Saat terjadi kondensasi awan, akan disemprotkan lagi pada sore hari, sehingga membentuk awan mendung yang lebih besar.

Dengan begitu, proses pencapaian titik jenuh awan menjadi lebih cepat. Dengan kata lain, hujan buatan adalah percepatan presipitasi oleh manusia.

  • Hujan Siklonal

Jenis hujan yang terakhir adalah hujan siklon. Penyebab terjadinya hujan siklon adalah pertemuan angin pasat timur laut dan tenggara yang menimbulkan angin vertikal ke atas di ekuator. Baca juga jenis gunung berapi berdasarkan bentuknya.

Sponsors Link
,




Post Date: Wednesday 22nd, June 2022 / 03:58 Oleh :
Kategori : Geografi