Sponsors Link

8 Sifat Pengendalian Sosial Dalam Contoh Kehidupan Masyarakat

Sponsors Link

Selain berlangsungnya suatu proses interaksi sosial atau hubungan sosial sebagai contoh tindakan sebagai makhluk sosial, di dalam keberlangsungannya juga akan ada istilah peraturan dan sanksi. Dimana keduanya merupakan bagian dari upaya pengendalian sosial, artinya adanya peraturan dan sanksi dimaksudkan untuk mengendalikan segala pola tingkah laku para anggota masyarakat agar sesuai dengan yang diharapkan. Walaupun pada kenyataan masih banyak peraturan-peraturan yang dilanggar, hingga tidak perduli terhadap sanksi yang ada.

ads

Bentuk peraturan yang ada di dalam masyarakat dapat berupa nilai dan norma,  hukum, adat istiadat, dan lain sebagainya. Dimana peran nilai dan norma dalam proses sosialisasi sangatlah penting. Oleh sebab itu adanya pengendalian sosial juga penting demi keberlangsungan hidup bermasyarakat. Pengendalian sosial juga memiliki berbagai macam sifat-sifat tertentu yang akan dibahas dalam kesempatan kali ini. Namun sebelum itu perlu dibahas terlebih dahulu apa yang sebenarnya disebut sebagai suatu pengendalian sosial agar dapat memahami sifat pengendalian sosial lebih dalam.

Pengertian Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial secara umum dapat dipahami sebagai suatu cara atau upaya serta proses pengawasan baik yang telah direncanakan maupun tidak direncanakan sebelumnya, dengan tujuan untuk mendidik, mengajak, hingga memaksa setiap warga masyarakat untuk berperilaku atau bersikap sesuai dengan norma sosial atau sesuai dengan apa yang dianggap benar dan diharapkan oleh masyarakat itu sendiri. Selain pengertian tersebut, beberapa ahli dalam ilmu sosiologi juga memberikan pendapatnya mengenai pengertian pengendalian sosial. Beberapa diantaranya adalah:

  • Peter L. Berger – Pengendalian sosial merupakan suatu cara yang digunakan oleh masyarakat yang bertujuan untuk menertibkan anggota masyarakat itu sendiri yang melakukan pelanggaran atau membangkang.
  • Horton – Pengendalian sosial merupakan sekumpulan cara dan proses yang dilakukan oleh sekelompok orang atau juga oleh masyarakat dengan tujuan para anggotanya dapat berperilaku atau bertindak sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkan oleh kelompok atau masyarakat tersebut.
  • Soetandyo Wignyo Subroto – Pengendalian sosial merupakan suatu sanksi sebagai bentuk dari penderitaan atau dampak yang secara sengaja diberikan oleh masyarakat.
  • Robert M. Lawang – Pengendalian sosial merupakan suatu cara yang digunakan atau dilakukan oleh suatu masyarakat untuk mengembalikan para anggota masyarakatnya yang melakukan penyimpangan pada garis yang normal atau garis seharusnya.

Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa, pengendalian sosial merupakan suatu upaya, cara, atau dan proses yang dilakukan masyarakat untuk mengendalikan atau mengarahkan para anggota masyarakatnya ke arah yang diharapkan atau diinginkan oleh masyarakat itu sendiri. Proses yang dilakukan dapat berupa sanksi, didikan, atau lain sebagainya. Jika dilihat dari penjelasan-penjelasan tersebut dapat disimpulkan juga bahwa suatu aturan didalam masyarakat hadir karena adanya suatu pelanggaran yang dilakukan, artinya ketika seseorang melakukan penyimpangan sosial maka suatu aturan akan dibentuk untuk mencegah penyimpangan semacamnya dilakukan kembali. Aturan-aturan yang dibuat tersebut yang nantinya akan disesuaikan dengan apa yang masyarakat harapkan atau inginkan.

Sifat-Sifat Pengendalian Sosial

Penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian anggota masyarakat memang perlu di kendalikan, hal ini untuk mencegah terjadinya kerusakan pada sistem nilai dan norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat tersebut. Oleh sebab itulah, pengendalian sosial diperlukan agar tidak menimbulkan berbagai bentuk-bentuk konflik sosial atau berbagai macam contoh masalah sosial di kemudian hari yang dapat mengganggu ketenteraman masyarakat. Adanya pengendalian sosial menjadi suatu kontrol sosial bagi masyarakat untuk menciptakan suatu kehidupan masyarakat yang diinginkan dan diharapkan oleh seluruh anggota masyarakat itu sendiri. Pengendalian sosial sendiri juga memiliki sifat-sifat tertentu, beberapa diantaranya adalah:

  1. Preventif
Sponsors Link

Sifat pengendalian sosial yang pertama adalah preventif, artinya bahwa pengendalian sosial dilakukan sebelum adanya atau terjadinya suatu penyimpangan terhadap nilai maupun norma sosial yang berlaku di dalam kehidupan masyarakat tertentu. Pengendalian sosial bersifat preventif dapat juga dipahami sebagai suatu tindakan pencegahan terhadap tindakan-tindakan yang mungkin dilakukan oleh anggota masyarakat yang menyimpang atau tidak sesuai dengan aturan, nilai, dan norma yang diharapkan dan diinginkan oleh masyarakat tersebut. Sebagai contoh pengendalian sosial preventif seperti:

  • Orang tua yang melarang anak-anaknya terutama anak laki-laki nya untuk merokok, karena merokok merupakan hal yang tidak baik untuk dilakukan dan dapat merusak kesehatan tubuh.
  • Para petugas kepolisian yang menegur para pemakai jalan yang melanggar rambu-rambu lalu lintas maupun tidak menggunakan helm sebagai standar keselamatan dalam menggunakan kendaraan bermotor.
  1. Kuratif

Sifat kedua dari pengendalian sosial adalah sifat kuratif, artinya bahwa pengendalian sosial dilakukan pada saat adanya atau berlangsungnya suatu penyimpangan sosial oleh anggota masyarakat. Berbeda dengan pengendalian sosial preventif yang menjadi suatu tindakan pencegahan, namun pengendalian sosial bersifat kuratif menjadi suatu upaya untuk menghentikan penyimpangan yang sedang terjadi. Sebagai contohnya seperti:

ads
  • Teguran yang diberikan orang tua karena anak nya ketahuan merokok, dan membangkang atau tidak menuruti kata-kata orang tua.
  • Seorang guru yang memberi teguran dan nasehat kepada murid atau siswa nya yang ketahuan menyontek pada saat ujian berlangsung.
  1. Represif

Sifat pengendalian sosial yang terakhir adalah represif, artinya pengendalian sosial yang dilakukan setelah penyimpangan sosial selesai dilakukan, sehingga pengendalian sosial menjadi suatu upaya untuk memperbaiki apa yang telah dilanggar. Pengendalian sosial bersifat represif juga bertujuan untuk mengembalikan keserasian atau kondisi yang pernah terganggu oleh adanya suatu kejadian dimana pelanggaran atau penyimpangan terhadap nilai dan norma sosial di dalam masyarakat terjadi. Sehingga semua dapat kembali sesuai dengan apa yang masyarakat harapkan dan inginkan. Selain itu tujuan pengendalian sosial represif juga untuk memberikan rasa jera, sehingga penyimpangan sosial tidak dilakukan kembali. Sebagai contoh seperti:

  • Orang tua yang tidak memberikan uang jajan karena anaknya membantah atau berbohong dan melakukan kesalahan.
  • Seorang guru yang memberikan pekerjaan rumah atau tugas dua kali lipat kepada siswa nya yang diketahui tidak mengerjakan pekerjaan rumah sebelumnya.

Itulah tiga sifat utama pengendalian sosial yang paling umum terjadi didalam masyarakat. Dari ketiga sifat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pengendalian sosial dapat dilakukan sebelum suatu penyimpangan sosial terjadi, saat penyimpangan sosial terjadi, maupun setelah suatu penyimpangan sosial terjadi. Walaupun sudah terdapat tiga sifat utama suatu pengendalian sosial dalam masyarakat, namun sebenarnya masih ada beberapa sifat pengendalian sosial yang lainnya. Beberapa sifat pengendalian sosial tersebut seperti pengendalian resmi, pengendalian tidak resmi, pengendalian institusional, dan pengendalian berpribadi. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

  1. Pengendalian Sosial Resmi

Sifat pengendalian sosial resmi artinya bahwa suatu pengendalian sosial dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi negara, termasuk lembaga agama. Lembaga-lembaga resmi tersebut yang nantinya akan melakukan pengawasan terhadap kepatuhan masyarakat terhadap peraturan-peraturan umum yang diberlakukan oleh negara, seperti undang-undang dasar, hukum pidana, hukum perdata, dan lain sebagainya.

Sedangkan lembaga-lembaga agama melakukan suatu pengendalian sosial juga bertujuan untuk mengetahui dan mengawasi ketaatan masyarakat terhadap perintah-perintah agama masing-masing yang bersangkutan. Cara pengendalian sosial yang dilakukan secara resmi juga diatur didalam suatu peraturan-peraturan resmi. Beberapa contoh lembaga yang bertugas untuk mengawasi suatu penyimpangan dan melakukan pengendalian sosial seperti aparat kepolisian, kejaksaan, serta para pengurus keagamaan.

  1. Pengendalian Sosial Tidak Resmi

Pengendalian sosial tidak resmi artinya pengendalian sosial dilakukan bukan oleh lembaga-lembaga resmi negara, cara yang dilakukan juga tidak ditetapkan dalam suatu peraturan yang resmi. Artinya tidak ada cara pelaksanaan pengendalian yang secara jelas tertulis didalam hukum atau peraturan negara, tetapi selalu diingat dan dilakukan oleh masyarakat.

Adanya pengendalian sosial tidak resmi juga bertujuan untuk memelihara peraturan-peraturan resmi di dalam masyarakat. Walaupun para pelaku pengendalian sosial atau petugas-petugas nya hanya dibentuk oleh lembaga-lembaga sosial yang hadir di dalam masyarakat, namun efektivitas pengawasan tetap berjalan dengan baik dan efektif. Beberapa contoh yang melakukan pengendalian sosial tidak resmi seperti keluarga, RT atau RW, tokoh agama, perkumpulan di masyarakat, dan lain sebagainya. Pengendalian sosial tidak resmi juga dimaksudkan untuk mencegah adanya penyimpangan sosial yang dilakukan oleh anggota masyarakat yang bersangkutan.

  1. Pengendalian Sosial Institusional
Sponsors Link

Pengendalian sosial institusional berarti bahwa adanya suatu pola kebudayaan yang dimiliki oleh suatu lembaga tertentu yang hadir dan ikut berkembang di dalam masyarakat. Pola perilaku, nilai dan norma yang dimiliki oleh lembaga tersebut tidak hanya mengawasi dan melakukan pengendalian terhadap para anggota lembaga saja, tetapi juga terhadap lingkungan sekitarnya atau lingkungan masyarakat.

Sebagai contoh seperti didalam suatu lingkungan masyarakat yang didalamnya terdapat pondok pesantren, maka beberapa kebiasaan serta pola perilaku dari pondok pesantren tersebut secara sadar maupun tidak sadar akan berpengaruh terhadap kebiasaan masyarakat sekitarnya. Seperti cara berpakaian, cara berperilaku, hingga cara berpikir didalam pesantren tidak akan berpengaruh terhadap para santri nya saja tetapi anggota masyarakat sekitarnya juga pasti akan terpengaruh terhadap pola kehidupan yang berkembang tersebut.

  1. Pengendalian Sosial Berpribadi

Pengendalian sosial berpribadi artinya bahwa pengendalian sosial dilakukan atau datang dari adanya suatu pengaruh baik itu pengaruh baik maupun buruk dari orang-orang tertentu disekitarnya, seperti tokoh masyarakat, artis atau tokoh idola, dan lain sebagainya. Salah satu perbedaan antara pengendalian sosial berpribadi dengan pengendalian sosial institusional adalah bahwa di pengendalian sosial institusional sulit untuk mengetahui siapa yang membawa pengaruh, tetapi di pengendalian sosial berpribadi akan mudah mengetahui pembawa pengaruhnya.

Itulah beberapa sifat pengendalian sosial yang hadir di dalam kehidupan masyarakat, semoga bermanfaat.

Sponsors Link
, , , ,
Post Date: Tuesday 15th, May 2018 / 04:06 Oleh :
Kategori : Sosiologi