Sponsors Link

Sejarah Perlawanan Rakyat Maluku Terhadap Portugis

Sponsors Link

Salah satu kisah perlawanan hebat dalam melawan imperialisme dan kolonialisme barat terjadi di Maluku. Pada abad ke-14, 15 dan juga 18 akan selalu diingat sebagai sejarah hebat Perlawanan Rakyat Maluku terhadap Portugis dan juga VOC. Perlawanan Rakyat Maluku sendiri menjadi salah satu kisah paling hebat di Indonesia karena menciptakan persatuan nusantara dalam melawan barat. Kemenangan 100 persen dalam melawan penjajah tersebut akhirnya juga melahirkan beberapa orang pahlawan seperti Thomas Matulessy dan juga Sultan Baabullah.

ads

Perlawanan Rakyat Maluku Melawan Portugis

Di Maluku terjadi peristiwa sejarah yang sangat penting dan menjadi pertanda kebesaran nusantara yang bisa mengusir penjajah seperti salah satunya yang terjadi di abad ke-15 terhadap Portugis yang pada mulanya berawal dari ekspedisi bangsa Portugis ke Maluku yang mendarat di Kerjaan Ternate tahun 1513 dan inilah yang menjadi faktor penyebab terjadinya pergolakan daerah.

Latar Belakang Perlawanan Rakyat Maluku

Gerak gerik bangsa Portugis di Maluku sebenarnya hanya sebatas kerja sama di bidang perdagangan khususnya rempah rempah. Akan tetapi semakin lama, Portugis melanggar kerja sama dengan melakukan monopoli dagang. Hal tersebut membuat Sultan Ternate, Sultan Hairun yang kemudian menyerukan perlawanan pada Portugis pada seluruh Maluku bahkan Jawa hingga Irian.

Sampai akhirnya, terjadilah Perang Ternate Portugis yang pertama di tahun 1559 – 1567 dimana Sultan Hairun mengutus putra putranya untuk menjadi Panglima.

Jalan dan Akhir Perlawanan

Di Ternate sejak tahun 1550 terkadang terjadi pertempuran yang kemudian berkembang menjadi perang. Selama perang tersebut lahirlah tokoh pahlawan muda bernama Pangeran Baab dan kemudian Sultan Baabullah yakni putra Sultan Hairun yang cakap sebagai panglima.

Dalam perang tersebut juga terjadi peristiwa yang akan selalu diingat yakni 3 Kerajaan Islam terbesar yakni Aceh, Demak dan Ternate yang masing masing berasal dari barat, tengah dan timur nusantara membentuk sebuah front persatuan melawan Portugis yang terus berlanjut hingga abad ke-15 yang menjadi salah satu usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Disinilah pasca era Majapahit tercipta dan lahir sebuah front persatuan nusantara yang memiliki andil besar dalam tindak tanduk barat selama seabad di bumi nusantara.

Dengan front tersebut, perang dimenangkan oleh Ternate dan wolayah Ambon direbut serta Portugis yang terpaksa memohon untuk damai. Ini kemudian disambut baik oleh Sultan Hairundan Portugis tetap diizinkan berdagang di Ternate dan bersaing dengan pedagang lain secara bebas. Sementara hak hak istimewa mereka berhubungan dengan monopoli dagang dicabut.

Perlawanan Terhadap Portugis

Permohonan damai Portugis ternyata hanya dijadikan kedok dan untuk meruntuhkan Ternate, mereka masih menginginkan semua kekayaan rempah rempah di Maluku. Akan tetapi, kekuatan yang belum cukup membuat mereka mengulur waktui selama masa damai.

Dibalik layar, Portugis mengatur rencana licik dengan sabar dan terbukti pada tahun 1570. Portugis melakukan langkah jebakan yang sangat licik. Dengan alasan merayakan hubungan Ternate Portugis yang semakin baik, Sultan Hairun kemudian diundang ke Benteng Sau Paulo pada 25 februari 1570 oleh gubernur Portugis Lopez De Mesquita.

Sultan Hairun yang pada awalnya percaya pada Portugis kemudian datang tanpa pengawal. Sesampainya disana, ia langsung dibunuh dan mati dengan mengenaskan dan ini dipercaya akan menjadi kehilangan besar untuk rakyat Maluku atas pimpinan yang hebat.

Namun dengan kematian Sultan Haitun, tentunya ada posisi kosong untuk kepemimpinan Maluku. Untuk menghimpun persatuan melawan Portugis, rakyat harus memiliki pemimpin yang bisa mengatur rakyat. Untuk itu, Dewan Kerajaan Atas dukungan dari rakyat memilih Pangeran Baabullah, anak dari Sultan Hairun yang selanjutnya bergelar Sultan Baabullah Datu Syah sebagai pemimpin yang menjadi faktor pendorong lahirnya pergerakan nasional.

Perang jihad kemudian diumumkan di semua nusantara Timur dan suku yang berbeda beda dipersatukan semata mata hanya untuk berjuang melawan Portugis. Persatuan dengan Tidore diperkukuh dengan pernikahan Sultan Baabullah dengan adik dari Sultan Tidore dan beberapa panglima diangkat yang semuanya bersatu di bawah pimpinan Sultan Baabullah dengan 2000 kora kora dan 120.000 prajurit, pasukan jihad kemudian menyerang Portugis.

Sementara pihak Portugis sedang buruk karena tidak bisa mendapatkan bantuan dari luar sebab daerah kekuasaan mereka yakni Malaka sedang dikepung Kesultanan Aceh yang kemudian membuat pasukan jihad Sultan Baabullah unggul dan hanya menyisakan satu benteng yakni Sau Paulo tempat kediaman gubernur Portugis Lopez De Mesquita.

Orang Portugis kemudian pergi ke Malaka dan sebagian lagi pergi ke Timor. Sedangkan Ternate mengalami masa kejayan bersama Sultan Baabullah dan tetap memelihara persatuan serta kerja sama dengan Kerajaan Demak dan Aceh sebagai poros nusantara untuk menolak kolonialisme barat.

Sponsors Link
, ,
Post Date: Friday 16th, August 2019 / 04:56 Oleh :
Kategori : Sejarah