Sponsors Link

Sejarah Perlawanan Maluku Terhadap VOC dan Belanda

Sponsors Link

Sesudah berhasil memenangkan perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis bersama dengan Sultan Baabullah, Ternate dan juga Maluku mengalami masa keemasan. Namun sesudah wafat pada tahun 1583 yang meninggalkan luka dalam, maka tidak ada lagi pemimpin sekaliber beliau yang bisa memimpin Maluku. Krisis kepemimpinan tersebut membuat Maluku secara perlahan mengalami kemunduran sehingga membuat musuh lama datang kembali yakni Portugis yang masih ingin menguasai Maluku. Berikut ini akan kami jelaskan secara singkat tentang perlawanan Maluku terhadap VOC dan Belanda secara lengkap untuk anda.

ads

Penyerangan Portugis Spanyol Serta Bantuan Belanda

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, Portugis bersama dengan Spanyol berusaha untuk menguasai Maluku dan segala cara yang sudah dilakukan tidak bisa dibendung Kesultanan Ternate  dan Maluku sekitarnya. Bahkan, Sultan Ternate juga dibuang yang membuat Ternate mau tidak mau harus meminta bantuan dari luar yang akhirnya didapatkan dari Belanda dengan armadanya namun dengan bayaran yang sangat disesali yang menjadi faktor penyebab terjadinya pergolakan daerah.

Portugis memang berhasil ditumpas, namun inilah yang kemudian menjadi awali dari Monopoli Belanda [VOC] yang berawal dari Perjanjian Kontrak Monopoli dagang VOC atas imbalan bantuan mereka di tahun 1607. Sesudah itu, selama lebih dari 300 tahun lamanya, Belanda menguasai tanah Maluku dan pengaruh Belanda juga semakin kuat. Lewat perintah Sultan, Belanda / VOC kemudian bisa leluasa membuat peraturan yang sebenarnya merugikan rakyat.

Pemberontakan Pada Belanda [VOC]

Ini kemudian menimbulkan kekecewaan rakyat dan pada akhirnya tercetuslah pemberontakan pemberontakan di sepanjang abad ke-15 seperti Pemberontakan Salahakan Hulu tahun 1635 dan juga Sultan Sibori tahun 1675. Namun, semua hal tersebut bisa ditumpas dan puncaknya pada tahun 1683, Sultan Sibori dengan terpaksa harus mengakhiri masa Kesultanan Ternate sebagai negara Berdaulat dan diganti dengan Kerajaan Independen Belanda yang menjadi alasan VOC dibubarkan.

Semua ini membuat Maluku tidak lagi bisa berkutik meski memang ada pemberontakan. Namun dengan pengawasan Belanda, maka pemberontakan hanya bisa dilakukan sambil sembunyi sembunyi dan dampaknya juga tidak terlalu besar hingga akhirnya Indonesia merdeka.

Perlawanan Rakyat Dibawah Pimpinan Kapitan Pattimura

Perlawanan Maluku terhadap VOC dan Belanda yang akan selalu diingat adalah perjuangan Kapitan Pattimura [Thomas Matulessi] yang sempat menyusahkan pihak Belanda.Pattimura berhasil menjadi pemimpin rakyat Maluku untuk melawan Belanda. Penyebab perlawanan ini adalah kesengsaraan rakyat yang sudahsangat memuncak akibat kebijakan yang dibuat Belanda seperti pemberlakuan kerja wajib, pemberlakuan uang kertas dan juga pengangkatan pemuda Maluku menjadi serdadu Belanda yang semuanya tidak ditanggapi oleh pemerintah Belanda.

Sampai akhirnya, pemberontakan pun dilakukan dengan mempersatukan rakyat dan membuat pasukan Pattimura unggul ditandai dengan terbunuhnya residen Belanda, Van Der Bergh. Namun secara perlahan, kekuatan Belanda kembali pulih karena mendapat bantuan dari Batavia. Pasukan Pattimura lalu dipaksa untuk bergerilya dan akhirnya harus menyerah serta dihukun gantung di Ambon di depan Benteng New Victoria tanggal 16 Desember 1817.

Pada saat itu juga terlahirlah pahlawan pahlawan lain seperti Anthonie Rhebok, Thomas Pattiweal, Lucas Latumahina dan juga Johanes Matulessi.

Perlawanan Rakyat Maluku Terhadap VOC

Di tahun 1635, akhirnya muncul perlawanan rakyat Maluku terhadap VOC di bawah pimpinan Kakiali, Kapten Hitu. Perlawanan dengan cepat meluas ke berbagai daerah sehingga keududukan VOC terancam sehingga Gubernur Jenderal Van Diemen dari Batavia sampai 2 kali datang ke Maluku pada tahun 1637 dan 1638 untuk menegakkan kekuasaan kompeni dan menjadi salah satu faktor pendorong lahirnya pergerakan nasional.

Untuk mematahkan perlawanan rakyat Maluku, kompeni berjanji akan memberikan hadiah besar pada siapa saja yang bisa membunuh Kakiali sampai akhirnya seorang pengkhianat berhasil membunuh Kakiali.

Dengan gugurnya Kakiali, untuk sementara Belanda berhasil mematahkan perlawanan rakyat Maluku dan sesudah itu muncul kembali perlawanan sengit dari orang orang Hitu di bawah pimpinan Telukabesi dan baru bisa dipadamkan pada tahun 1646. Sementara tahun 1650, muncul kembali perlawanan di Ambon di bawah pimpinan Saidi yang meluas ke daerah lain seperti Maluku, Seram dan juga Saparua.

Pihak Belanda yang agak terdesak kemudian meminta bantuan ke Batavia dan pada bulan Juli 1655, bantuan datang di bawah pimpinan Vlaming Van Oasthoom dan terjadilah pertempuran sengit di Howamohel. Pasukan rakyat kemudian terdesak dan Saidi akhirnya tertangkap lalu dihukum mati sehingga patahlah perlawanan rakyat Maluku.

Sponsors Link
, , ,
Post Date: Friday 16th, August 2019 / 05:06 Oleh :
Kategori : Sejarah