Sponsors Link

7 Contoh Sosiologi Perkotaan Secara Individu dan Kelompok

Sponsors Link

Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk pemenuhan kebutuhannya. Hubungan satu manusia dengan manusia lain ini mempengaruhi perilaku masing-masing manusia. Ada suatu ilmu yang mempelajari perilaku hubungan manusia dengan manusia lain, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, yaitu ilmu sosiologi.

ads

Seiring berkembangnya jaman, teknologi dan ilmu pengetahuan juga ikut bekembang pesat. Hal ini mempengaruhi sifat hubungan sosial manusia. Sosiologi, sebagai suatu ilmu juga ikut berkembang. Ada beberapa macam cabang dari ilmu sosiologi. Cabang ilmu sosiologi yang paling banyak diketahui yaitu sosiologi pendidikan, sosiologi agama, dan sosiologi keluarga. Namun ternyata masih banyak lagi cabang sosiologi yang lain, seperti sosiologi industri, sosiologi pertanian, sosiologi perkotaan, sosiologi politik, dan lain sebagainya. Salah satu cabang ilmu sosiologi yang akan dibahas berikut adalah sosiologi Perkotaan.

Sosiologi Perkotaan merupakan cabang ilmu sosiologi yang berfokus pada Perkotaan. Ilmu ini mempelajari interaksi manusia dengan manusia lain berkaitan dengan Perkotaan serta hal-hal sosiologis yang berkaitan dengannya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Perkotaan adalah gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh (seperti sepak bola, berenang, lempar lembing). Uraian mengenai fungsi dan tujuan sosiologi Perkotaan dapat dilihat di sini.

Berikut adalah uraian mengenai contoh sosiologi Perkotaan secara individu dan kelompok. Abdul Kadir Ateng membagi sosiologi Perkotaan menjadi tujuh contoh, yaitu pelepasan emosi, pembentukan pribadi, kontrol sosial, sosialisasi, perubahan sosial, kesadaran, dan keberhasilan.

1. Perkotaan untuk Pelepasan Emosi

Perkotaan dapat menjadi kegiatan yang bermanfaat untuk pelepasan emosi, tentunya dengan cara yang masih diterima oleh masyarakat. Emosi yang dimiliki manusia sangat beragam. Emosi dan perasaan terkadang masih dianggap mirip, namun emosi lebih berfokus pada pengungkapan perasaan yang dirasakan dan sifatnya lebih umum. Emosi yang berlebihan dalam kegiatan apa pun tentu memang tidak baik. Dalam Perkotaan, perlu dihindari emosi yang berlebihan dalam hal kegelisahan, ketakutan, dan kemarahan. Kegelisahan dapat diibaratkan sebagai ketakutan yang ringan. Biasanya emosi ini dirasakan sebelum bertanding dalam bidang Perkotaan.

Ketakutan terkadang bisa menjadi motivasi apabila masih dalam batas yang wajar, karena manusia akan berhati-hati terhadap sesuatu yang ditakutinya tersebut. Dalam Perkotaan, sebaiknya kegelisahan dan ketakutan dikendalikan agar tidak mengganggu dan malah menjadi motivasi yang membuat semangat dalam Perkotaan. Kemarahan merupakan reaksi yang kuat terhadap sesuatu yang tidak disenangi oleh seseorang. Marah timbul karena ada perasaan terancam. Dalam Perkotaan, terutama apabila di dalam pertandingan, terkadang rasa marah dapat timbul akibat pengaruh atau provokasi dari pihak lawan. Hal ini harus dikendalikan agar tidak mengganggu performa dalam Perkotaan.

2. Perkotaan untuk Pembentukan Pribadi

Perkotaan juga dapat menjadi kegiatan yang tepat sebagai sarana untuk mengembangkan identitas diri. Sebagai makhluk sosial, manusia memang selayaknya memiliki nilai-nilai atau values yang dipegang agar hubungan atau interaksi dengan orang lain dapat terjaga dengan baik.

Dengan Perkotaan, dapat diusahakan tumbuhnya nilai-nilai yang baik agar manusia dapat terbentuk menjadi pribadi yang baik. Contoh sifat-sifat baik yang dapat tumbuh dalam berkegiatan Perkotaan yaitu kejujuran, sportivitas, tanggung jawab, kerja sama, serta menghargai orang lain.

3. Perkotaan untuk Kontrol Sosial

Perkotaan untuk kontrol sosial bertujuan untuk menyesuaikan diri agar sesuai dengan norma-norma sosial yang berlaku. Kontrol sosial berarti Perkotaan sebagai sarana untuk mengawasi jalannya kegiatan sosial yang dilakukan oleh individu atau kelompok lain. Kontrol sosial bahkan juga mencakup proses mendidik, mengajak, atau bahkan memaksa agar norma-norma sosial tetap terjaga.

Sponsors Link

4. Perkotaan untuk Sosialisasi

Dalam kegiatan Perkotaan juga dapat terjadi proses sosialisasi, yaitu membangun perilaku manusia serta nilai-nilai yang dianggap baik secara bersama. Hal ini karena dalam kegiatan Perkotaan banyak terjadi interaksi sosial antar satu individu atau kelompok dengan individu atau kelompok lain. Melalui kegiatan interaksi ini terjadi proses sosialisasi.

5. Perkotaan untuk Perubahan Sosial

Saat ada kegiatan Perkotaan terjadi proses sosialisasi. Proses ini dapat menghasilkan sesuatu berupa perubahan sosial. Perubahan sosial ini terjadi akibat adanya interaksi sosial dan juga asimilasi. Interaksi sosial mencakup terjadinya percakapan, berkumpul, dan bergaul dalam kegiatan Perkotaan. Sedangkan asimilasi yaitu bercampurnya dua kebudayaan, misalnya saat Perkotaan dengan manusia dari daerah lain dengan budaya yang berbeda sehingga dapat terjadinya asimilasi.

Sponsors Link

6. Perkotaan untuk Kesadaran

Interaksi manusia dengan manusia lain dalam Perkotaan diharapkan dapat membangun kesadaran akan pola tingkah laku yang benar. Kegiatan Perkotaan tidak hanya memberi manfaat yang dirasakan dalam tubuh saja, tapi juga dalam pengendalian emosi dan juga penjagaan nilai-nilai yang baik sehingga Perkotaan juga dapat membangun kesadaran akan tingkah laku yang baik.

7. Perkotaan untuk Keberhasilan

Perkotaan dapat menjadi ajang bagi seseorang atau kelompok untuk meraih tujuan atau prestasinya, misalnya yang terjadi dalam pertandingan Perkotaan. Keberhasilan ini tidak hanya dapat diraih oleh orang yang aktif bermain dalam Perkotaan, namun juga dapat dirasakan oleh penikmat Perkotaan.

Demikian penjelasan mengenai contoh sosiologi Perkotaan secara individu dan kelompok. Semoga bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan pembaca.

Sponsors Link
, , , , ,
Post Date: Sunday 26th, August 2018 / 04:57 Oleh :
Kategori : Sosiologi