Sponsors Link

6 Contoh Kreolisasi Dalam Sosiologi di Bidang Budaya

Sponsors Link

Kita tentu sering mendengar istilah globalisasi, baik dari dunia akademi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Globalisasi banyak didefinisikan sebagai runtuhnya batas antara dunia global dengan negara, baik dalam hal positif maupun negatif. Ketika mempelajari tentang globalisasi, tentu kita juga diajarkan tentang dampak globalisasi. Di dalamnya, kita terus-menerus diingatkan bahwa ada perubahan-perubahan yang akan terus dialami di dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, politik, dan permasalahan sosial budaya. Perubahan-perubahan tersebut dapat terjadi akibat masuknya unsur-unsur global ke dalam unsur nasional.

ads

Masuknya unsur-unsur tersebut kemudian diserap dan digabungkan dengan unsur nasional yang telah terlebih dahulu diketahui. Hal ini kemudian menyebabkan munculnya istilah baru yaitu kreolisasi. Kreolisasi menjadi sebuah istilah penting di dalam keilmuan sosiologi. Kita harus melihatnya dari sisi sosiologi karena ada berbagai kegunaan perspektif sosiologi. Para ilmuwan mendefinisikan kreolisasi sebagai penggabungan atau pencampuran unsur-unsur global yang kemudian menghasilkan suatu hal yang baru. Contoh kreolisasi dalam sosiologi paling terlihat jelas di dalam contoh perubahan sosial budaya, baik itu musik, tarian, bahasa, ataupun yang lainnya.

Jika kita lihat contoh kreolisasi dalam sosiologi, terdapat perbedaan antara kreolisasi dengan penggabungan budaya lainnya seperti akulturasi. Pada kreolisasi, makna asli unsur global yang digabungkan tidaklah dipertimbangkan. Unsur global hanya sekedar dipakai tanpa diberikan makna di dalam unsur nasional yang sudah dimiliki dan tidak mengikuti manfaat sosial budaya yang dimiliki. Agar lebih jelas, berikut beberapa contoh kreolisasi dalam sosiologi.

  1. Ketukan tarian barat saat ini banyak digabungkan dengan gaya tradisional dari Afrika Utara dan Asia.
  2. Di Indonesia, banyak orang memakai rantai panjang di sabuk celana sebagai aksesoris. Budaya ini berasal dari Jamaika, tetapi dengan makna solidaritas pada teman-teman yang berada di penjara.
  3. Penggunaan kata ‘bro’ dan ‘sis’ sebagai panggilan untuk orang lain, terkadang dipakai tanpa memperhatikan usia lawan bicara.
  4. Penulisan kata ‘hape’ untuk HP, ‘esde’ untuk SD, ‘esempe’ untuk SMP, dan lain sebagainya.
  5. Pemakaian istilah asing yang sering terbaca di Internet seperti online, download, dan lain sebagainya.
  6. Pemakaian bahasa yang tidak baku, seperti di dalam puisi budaya layar Jakarta Breaking Poetry.

Itulah beberapa contoh kreolisasi dalam sosiologi. Indonesia terkenal dengan kekayaan akan budaya tradisionalnya. Citra ini kemudian membuat banyak orang menganggap kreolisasi sebagai suatu hal yang buruk. Kreolisasi dianggap menghilangkan tradisi-tradisi budaya yang ada di Indonesia. Contoh kreolisasi dalam sosiologi pun banyak menunjukkan mulai hilangnya keaslian budaya Indonesia yang diturunkan sejak dahulu.

Oleh karena itu, hal ini menjadi pembelajaran yang sangat penting bagi kita. Tidak masalah jika kita memang ingin menggunakan bahasa yang tidak baku atau ikut menyukai budaya dari luar. Namun, kita harus benar-benar berhati-hati dalam menghadapi masuknya unsur global ke dalam Indonesia. Sebagai masalah sosial, kita butuh peran sosiologi dalam pemecahan masalah sosial. Bagaimanapun budaya yang sudah kita miliki begitu indah. Tentu kita harus jaga dan rawat kelestariannya sebagai peran Indonesia di era globalisasi. Berbanggalah dengan budaya yang ada di Indonesia.

Sponsors Link
, , , ,
Post Date: Wednesday 19th, June 2019 / 06:18 Oleh :
Kategori : Sosiologi