Sponsors Link

Ciri Ciri Etos Kerja Dalam Islam

Sponsors Link

Etos kerja merupakan refleksi dari sikap hidup yang mendasar sehingga pada dasarnya juga merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai nilai yang berdimensi transenden. Ciri ciri seseorang yang memiliki dan menghayati etos kerja akan terlihat dalam sikap serta tingkah laku yang berlandaskan pada sebuah keyakinan mendalam jika bekerja adalah ibadah dan berprestasi adalah hal yang indah. Akan ada seperti panggilan dari dalam hati agar bisa terus memperbaiki diri, mencari prestasi dan juga tampil sebagai bagian dari umat yang terbaik. Berikut ini, kami akan berikan ciri ciri etos kerja dalam Islam secara lengkap untuk anda.

ads

1. Bekerja Sebagai Kewajiban

Ciri etos kerja yang pertama adalah bekerja sebagai kewajiban. Islam mewajibkan manusia untuk bekerja dan bekerja sendiri tidak hanya bertujuan untuk memperoleh uang sehingga bisa membeli apa saja atau memaksimalkan konsumsi, namun bekerja adalah media untuk membuktikan jika manusia adalah khalifatullah yang patuh dalam mengikuti perintah Allah SWT dan peran pasar dalam perekonomian disini sangatlah penting.

Dalah hadis sudah disebutkan jika seseorang yang keluar mencari kayu bakar kemudian hasilnya dijual untuk bersedekah dan menghindari ketergantuang pada manusia akan lebih baik dibandingkan orang yang meminta minta pada orang lain baik diberi atau ditolak.

2. Menghargai Waktu

Salah satu esensi dan hakikat etos kerja dalam Islam adalah memahami, menghayati dan juga merasakan jika waktu sangatlah berharga dan waktu merupakan aset Ilahiyah yang sangat berharga yang juga menjadi upaya Indonesia menjadi negara maju. Sedangkan jika waktu diabaikan, maka akan diperbudak dengan kelemahan. Namun sebaliknya jika waktu dimanfaatkan dengan baik, maka akan ada di atas jalan keberuntangan seperti firman Allah SWT, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar benar berada dalam kerugian kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati agar mentaati kebenaran dan nasihat menasihati agar menetapi kesabaran. [QS. Al ‘Ashr].

Berdasarkan firman Allah di atas, seorang muslim bagaikan kecanduan waktu yang tidak ingin setiap waktu terbuang percuma tanpa makna. Baginya, waktu adalah rahmat yang tidak terhitung dan pengertian makna waktu adalah rasa tanggung jawab yang besar atas kemuliaan hidup.

Sebagai konsekwensinya, ia akan menjadikan waktu sebagai wadah produktivitas dan ada semacam bisikan dalam jiwa supaya jangan melewatkan sedetik pun dalam kehidupan ini tanpa memberikan arti.

3. Memiliki Niat yang Ikhlas

Salah satu kompetensi moral yang dimliki seseorang yang berbudaya kerja Islami adalah nilai keikhlasan sehingga memandang sebuah tugas sebagai pengabdian, keterpanggilan untuk menunaikan tugas sebagai salah satu bentuk amanah yang harus dilakukan.

Motivasi unggul yang ada hanyalah pamrih pada hari nurani pribadi dan jika ada imbalan juga bukan menjadi tujuan utama namun hanya sekedar akibat sampingan dari pengabdian yang sudah dilakukan.

Sikap ikhlas bukanlah hanya sebuah output dari cara dirinya melayani namun juga sebagai input yang membentuk kepribadian berdasarkan sikap yang bersih. Bahkan, cara mencari rezeki, makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh adalah bersih dan inilah salah satu cara mengatasi kesenjangan sosial ekonomi yang sebenarnya.

4. Memiliki Sifat Jujur

Shadiq atau orang yang jujur berasal dari kata shidq atau kejujuran. Kata shiddiq merupakan bentuk penekanan dari shadiq yang berarti orang yang didominasi dengan kejujuran. Dengan begitu, dalam jiwa seseorang yang jujur ada komponen nilai ruhani yang berpihak pada kebenaran dan sikap moral yang terpuji.

Perilaku yang jujur merupakan perilaku yang diikuti oleh sikap tanggung jawab atas apa yang diperbuat atau integritas. Kejujuran dan integritas bisa mendorong sikap untuk siap menghadapi resiko dan juga bertanggung jawab.

5. Mempunyai Sifat Percaya Diri

Pribadi muslim yang percaya diri akan tampil seperti lampu yang terang, memancarkan raut wajah yang cerah serta berkharisma. Orang yang berada di sekitarnya juga akan merasa optimis, tercerahkan, tenteram dan juga mutma’innah.

Percaya diri nantinya akan memberikan kekuatan, keberanian dan juga ketegasan dalam bersikap. Seseorang yang percaya diri akan tangkas dalam mengambil keputusan tanpa arogan atau defensive serta merasa tangguh dalam mempertahankan pendirian yang menjadi salah satu contoh tindakan manusia sebagai mahluk sosial.

6. Memiliki Sikap Bertanggung Jawab

Takwa adalah bentuk rasa bertanggung jawab yang dilaksanakan dengan penuh rasa cinta dengan menunjukkan amal prestatif di bawah semangat pengharapan ridha Allah sehingga akan sadar jika dengan bertaqwa berarti akan ada seperti nyala api dalam hati yang mendorong pembuktian atau menunaikan amanah sebagai rasa tanggung jawab yang mendalam atas kewajiban sebagai hamba Allah.

Tanggung jawab memiliki arti menanggung dan memberikan jawaban. Dengan begitu, pengertian taqwa tang bisa ditafsirkan adalah sebagai tindakan bertanggung jawab  yang bisa didefinisikan sebagai sikap dan tindakan seseorang dalam menerima sesuatu sebagai amanah. Dengan penuh cinta, ia akan melakukannya dalam bentuk pilihan pilihan yang melahirkan ama prestatif.

Dalam bekerja, seseorang akan dihadapkan pada tiga bentuk tanggung jawab yakni yanggung jawab pada Tuhan dan tanggung jawab pada diri sendiri.

Sponsors Link
, , ,
Post Date: Friday 16th, August 2019 / 04:26 Oleh :
Kategori : Sosiologi