Sponsors Link

16 Bentuk-Bentuk Konflik Sosial dan Contohnya

Sponsors Link

Secara umum, konflik sosial sendiri merupakan definisi dari proses sosial yang terjadi saat satu pihak sedang berusaha untuk menyingkirkan pihak lainnya, entah dengan cara menghancurkan ataupun membuat lawan menjadi tidak berdaya. Sebuah konflik dapat muncul dikarenakan adanya perbedaan budaya, rasa, kepentingan individu, kelompok, ataupun perubahan sosial yang begitu cepat sehingga menimbulkan adanya disorganisasi sosial. Karena adanya perbedaan-perbedaan ini lah yang akhirnya sulit untuk menemukan sebuah kesamaan ataupun untuk didamaikan. Konflik sosial sendiri terdiri dari beberapa bentuk, berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai bentuk-bentuk konflik sosial dan contohnya dalam masyarakat. (baca juga: Penegrtian Piramida Penduduk)

ads
  • Bentuk Konflik Sosial Secara Umum

Secara umum, bentuk konflik sosial terdiri dari 6 bentuk, mulai dari konflik pribadi, antar kelas, politik, rasial, internasional, serta antar suku bangsa. Nah berikut ini penjelasan lebih lanjut.

1. Konflik Pribadi

Konflik ini terjadi dikarenakan ada dua individu yang mana sedang mengalami sebuah masalah pribadi dan saling tidak ingin menyadari kesalahan masing-masing. Masalah ini lah yang menjadi dasar dari konflik yang terjadi. Tak jarang, konflik pribadi ini terjadi diantara dua orang yang baru saja berkenalan, meskipun kebanyakan terjadi pada orang-orang yang sudah lama berkenalan.Dalam konflik pribadi, biasanya masing-masing orang akan berusaha untuk mengalahkan lawannya.  Contoh nya dalam kehidupan sehari-hari adalah perselisihan paham, tawuran pelajar, dan lainnya. (baca juga: Sejarah Perkembangan Sosiologi)

2. Konflik Antar Kelas

Konflik yang mana terjadi antar kelompok ataupun individu yang memiliki masalah dengan individu lainnya yang berada di kelompok (kelas) lainnya. Yang dimaksud kelas disini dapat diartikan sebagai kedudukan seseorang ataupun kelompok di dalam lingkungan masyarakat secara vertikal (kelas atas atau kelas bawah). Contoh yang sering terjadi misalnya saja ketika buruh mengadakan unjuk rasa kepada pimpinan perusahaan untuk bisa menaikkan gaji. Yang mana buruh disini dapat diartikan kelas bawah sedangkan pimpinan perusahaan merupakan kelas atas. (baca juga: Kenampakan Alam)

3. Konflik Politik

Konflik sosial yang mana terjadi pada 2 kelompok atau individu yang satu sama lainnya memiliki perbedaan serta pandangan berbeda mengenai prinsip dari masalah ketatanegaraan yang akhirnya berdampak pada perselisihan pandangan. Masalah politik sendiri memang menjadi masalah yang cukup mudah untuk memicu terjadinya ketidaknyamanan serta ketidaktenangan di dalam lingkungan masyarakat. Konflik politik ini bisa mengaitkan beberapa golongan-golongan tertentu dalam masyarakat hingga negara. Contoh konflik politik misalnya terjadi perselisihan antara partai politik dengan partai politik lainnya saat merumuskan undang-undang. (baca juga: Peran Indonesia di Era Globalisasi)

4. Konflik Rasial

Konflik rasial merupakan konflik yang terjadi diantara kelompok ras yang berbeda dikarenakan adanya kepentingan serta kebudayaan yang bertabrakan satu sama lainnya. Konflik rasial ini memang sudah berlangsung bahkan masuk ke dalam sejarah kehidupan manusia. Konflik ini biasanya terjadi dikarenakan salah satu ras yang merasa lebih unggul dibandingkan dengan ras lainnya. Salah satu contoh yang cukup populer dari konflik rasial ini adalah yang terjadi di Afrika Selatan, yaitu Politik Apartheid. Konflik ini terjadi pada ras kulit putih yang merupakan penguasan dengan ras kulit hitam yang menjadi golongan mayoritas yang ingin dikuasai. (baca juga: Pengertian Masyarakat Multikultural)

5. Konflik Internasional

Konflik internasional merupakan konflik yang terjadi dengan melibatkan beberapa kelompok negara dikarenakan adanya perbedaan kepentingan di dalamnya. Banyak sekali kasus konflik internasional yang terjadi berawal dari konflik dua negara yang mana dikarenakan adanya masalah ekonomi dan politik. Lambat laun, konflik yang terjadi diantara kedua negara ini berkembang dan menjadi konflik internasional. Hal ini dikarenakan masing-masing negara mencari kawan (sekutu) yang memiliki visi serta tujuan yang sama mengenai masalah yang sedang terjadi. Sehingga hal ini lah yang menyebabkan konflik ini menjadi konflik internasional. Contoh dari konflik internasional misalnya saja pada Negara Indonesia dan Malaysia yang memperebutkan perbatasn wilayah diantara kedua negara. (baca juga: Peninggalan Sejarah Hindu Budha)

6. Konflik Antar Suku Bangsa

Konflik yang terjadi dikarenakan adanya perbedaan di dalam kehidupan masyarakat, antara suku bangsa yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan yang dimaksud adalah mulai dari abhasa daerah, adat istiadat, kesenian daerah, seni bangunan rumah, serta tata susunan kekerabatan. Banyak hal yang menyebabkan perbedaan-perbedaan tersebut terjadi, antara lain adalah:

  • Wilayah Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau
  • Latar Belakang dari sejarah yang berbeda
  • Ketidaksamaan kondisi geografis
  • Lingkungan hukum adat serta garis kekerabatan yang beda.

Contohnya saja, adat pernikahan suku Jawa dengan Suku Minang yang berbeda satu sama lainnya. Sehingga ketika dua orang yang berasal dari suku yang berbeda menikah, tentu saja terkadang terjadi perdebatan mengenai adat yang akan digunakan. (baca juga: Kondisi Penduduk Indonesia)

7. Konflik Antar Agama

Bentuk-bentuk konflik sosial antara agama ini merupakan konflik yang terjadi pada pemeluk agama satu sama lainnya. Seperti yang anda ketahui sendiri, Indonesia memiliki beberapa agama yang dianut oleh masyarakat. Sehingga tak heran jika konflik ini dapat terjadi di Indonesia. Perbedaan agama ini nantinya dapat membawa perbedaan ke dalam kehidupan sehari harinya. Contohnya saja cara berpakaian, cara bersosialisasi, corak kesenian, penerapan hukum warisan, dan lainnya.

Perbedaan-perbedaan tersebut jika dibawa menjadi sebuah masalah tentu saja akan menimbulkan konflik diantara pemeluk agama satu sama lainnya. Yang awalnya merupakan masalah kecil, namun jika dibiarkan akan menjadi besar tergantung dari situasi serta kondisi yang sedang terjadi masing-masing. (baca juga: Jenis Jenis Manusia Purba)

  • Bentuk Konflik Sosial Berdasar Sifat
Sponsors Link

Jika didasarkan pada sifat, maka konflik sosial terbagi menjadi dua yaitu konflik konstruktif dan destruktif. Berikut ini penjelasannya,

1. Konflik Konstruktif

Konflik yang memiliki sifat fungsional yang terjadi dikarenakan adanya perbedaan pemahaman dari individu ataupun kelompok saat menghadapi sebuah permasalahan yang terjadi. Konflik konstruktif ini nantinya dapat menimbulkan konsensus dari berbagai pemahaman serta mencitakan sebuah perbaikan. Sehingga konflik ini nantinya akan memberikan nilai positif pada pengembangan organisasi atau komunitas. Misalnya saja, di dalam sebuah organisasi atau komunitas akan terjadi perbedaan pemahaman diantara anggota satu sama lainnya. (baca juga: Kondisi Penduduk Indonesia)

2. Konflik Destruktif 

Konflik destruktif merupakan konflik yang terjadi dikarenakan adanya perasaan yang kurang senang, benci, bahkan dendam dari indvidu atau kelompok kepada pihak-pihak lainnya. Berbeda dari bentuk konflik sebelumnya, konflik destruktif menciptakan bentrokan-bentrokan fisik yang membuat hilangnya harta benda hingga nyawa orang lain. Misalnya saja seperti bentrok yang terjadi di Sambas, Ambon, Kupang, dan lainnya. (baca juga: Ciri-Ciri Pranata Sosial)

  • Bentuk Konflik Sosial Berdasar Posisi Pelaku Yang Terkait Konflik

Berdaasr dari posisi pelaku yang melakukan atau terkait dengan konflik, maka konflik sosial dibagi menjadi 3 bentuk yaitu konflik vertikal, horizontal, dan diagonal. Berikut ini penjelasannya.

1. Konflik Vertikal

Yang dimaksud dengan konflik vertikal disini adalah konflik yang terjadi di antara komponen masyarakat yang berada di dalam sebuah pimpinan dengan karyawan yang ada di dalam kantor. Konflik ini terjadi dikarenakan adanya jabatan yang tidak sama. Contoh nya saja karyawan yang berdebat dengan atasan/kepala mengenai sebuah permasalah di kantor. (baca juga: Perkembangan Awal Politik Pada Awal Kemerdekaan)

2. Konflik Horizontal

Konflik horizontal merupakan konflik yang mana terjadi diantara individu ataupun kelompok yang memiliki kedudukan yang hampir atau bahkan sama. Contoh konflik horizontal ini biasanya konflik yang terjadi pada anggota-anggota di dalam sebuah organisasi. (baca juga: Peran Dunia Internasional Dalam Konflik Indonesia Belanda)

3. Konflik Diagonal

Konflik diagonal merupakan konflik yang muncul dikarenakan adanya pengalokasian sumber daya yang tidak adil kepada seluruh organisasi yang mana akhirnya menyebabkan terjadinya pertentangan yang cukup ekstrim. Contoh konflik diagonal misalnya saja konflik GAM yang terjadi di Nangroe Aceh Darussalam. (baca juga: Faktor Perubahan Sosial)

  • Bentuk Konflik Sosial Berdasar Sifat Pelaku Yang Berkaitan Dengan Konflik
ads

Bentuk konflik sosial yang berdasar pada sifat belaku yang ikut dan berkaitan dengan konflik dibedakan menjadi dua bentuk yaitu konflik terbuka dan tertutup. Berikut ini penjelasannya.

1. Konflik Terbuka

Konflik terbuka merupakan konflik yang kejadiannya diketahui oleh banyak pihak bahkan masyarakat umum. Contoh dari konflik terbuka ini adalah konflik yang sedang terjadi pada Negara Israel dan Palestina. (baca juga: Pembagian Wilayah Waktu Di Indonesia)

 2. Konflik Tertutup

Konflik tertutup merupakan konflik yang terjadi dan hanya diketahui oleh beberapa pihak saja, yaitu individu atau kelompok yang terlibat dalam konflik tersebut. Contohnya saja konflik yang terjadi di dalam keluarga, tentu saja pihak lain di luar keluarga tersebut tidak mengetahui hal tersebut. (baca juga: Jenis-Jenis Akomodasi)

Baca juga:

Bentuk Konflik Sosial Berdasar Dengan Bentuk

Berdasarkan dari bentuk, konflik sosial terdiri menjadi beberapa bentuk yaitu konflik realistis dan konflik non realistis. Berikut ini penjelasannya,

1. Konflik Realistis

Merupakan konflik yang terjadi dikarenakan adanya rasa kekecewaan dari individu atau kelompok mengenai perkiraan tentang keuntungan ataupun tuntutan yang ada di dalam sebuah lingkungan sosial. Contoh dari konflik realistis ini misalnya saja karyawan yang melakukan mogok bersama dikarenakan adanya ketidaksetujuan dengan pihak perusahaan mengenai sebuah kebijakan tertentu. (baca juga: Disintegrasi Sosial)

2. Konflik Nonrealistis

Merupakan konflik yang mana tidak disebbakan karena adanya tujuan-tujuan saingan yang saling bertentangan, namun didasarkan pada sebuah kebutuhan yang digunakan untuk meredakan ketegangan, setidaknya dari salah satu pihak yang berkaitan. Contoh dari konflik non realistis ini adalah penggunaan jasa ilmu-ilmu gaib yang digunakan untuk membalasa dendam terhadap perilaku orang lain terhadap kita. (baca juga: Cara Mengatasi Masalah Persebaran Penduduk)

  • Bentuk Konflik Sosial Berdasar Pendapat Ralf Dahrendorf

Menurut pendapat Ralf Dahrendorf, konflik sosial terbagi menjadi 4 bentuk yaitu antara lain konflik peran, antara kelompok sosial, kelompok yang terorganisis dan tidak, serta antara satuan nasional. Berikut ini penjelasannya.

  1. Konflik Peran, konflik yang terjadi di dalam sebuah peranan sosial. Konflik peran ini merupakan kondisi dimana seseorang menghadapi berbagai harapan berbeda dengan peranan yang dimilikinya.
  2. Konflik antara kelompok sosial
  3. Konflik antara kelompok yang sudah tergorganisis dengan kelompok yang tidak terorganisi
  4. Konflik antara satuan nasional, misalnya saja antara partai politik, antara negara, antar organisasi internasional, dan lainnya. (baca juga: Perkembangan Wilayah Indonesia)

Dampak Dari Konflik Sosial

Tentu saja setiap konflik sosial yang terjadi memiliki dampak tersendiri di lingkungan sosial, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Dampak positif dari konflik sosial, sebagai berikut:

  • Adanya penyesuaian kembali nilai serta norma-norma yang ada di dalam hubungan sosial di dalam individu ataupun kelompok yang bersangkutan.
  • Ada yang memperjelas mengenai aspek-aspek kehidupan yang mana masih belum jelas ataupun belum tuntas untuk dipelajari.
  • Mengurangi serta menekan adanya pertentangan di dalam masyarakat.
  • Mengurangi ketegangan yang bisa terjadi antar individu dan antar kelompok.
  • Membantu dalam menghidupkan kembali norma-norma lama serta menciptakan norma yang baru. (baca juga: Perbedaan Kolonialisme dan Imperialisme Barat)
  • Meningkatkan solidaritas di dalam kelompok yang sedang mengalami konflik dengan pihak lainnya.

Dampak negatif dari konflik sosial, sebagai berikut:

Sponsors Link

  • Keretakan hubungan di dalam masyarakat, seperti antar anggota kelompok, antar suku, dan lainnya.
  • Perubahan kepribadian pada diri individu, misalnya saja timbul rasa benci, dendam, dan curiga dikarenakan terjadinya perang sebelumnya.
  • Kerusakan harta benda bahkan hingga hilangnya nyawa seseorang.
  • Adanya dominasi dan penaklukan, yang mana terjadi pada pihak yang terlibat di dalam konflik tersebut. (baca juga: Macam-Macam Kebutuhan Manusia)

Meskipun begitu, konflik sosial harus segera diatasi, jika tidak maka tentu saja akan membuat masalah semakin membesar. Sehingga dibutuhkan upaya untuk mencegah kondisi semakin memburuk diakibatkan konflik sosial. Upaya-upaya tersebut dapat berupa perundingan, seperti:

  • Sikap toleransi, yaitu sikap saling menghargai satu sama lainnya, menghormati dan memahami keyakinan, pendirian, serta keberadaan dari pihak lain.
  • Kompromi, dimana kedua pihak yang bersangkutan sepakat untuk saling mengalah satu sama lainnya bahkan saling memberi serta menerima.
  • Konfersi, sikap yang mana bersedia untuk menerima pendirian serta keberadaan dari pihak lain. (baca juga: Ciri-Ciri Manusia Sebagai Makhluk Ekonomi)
  • Mediasi, merupakan proses perundingan dengan melibatkan pihak ketiga sebagai pihak netral. (baca juga: Permasalahan Lingkungan Hidup)
  • Konsiliasi, upaya yang dilakukan dengan tujuan agar dapat mencapai kesepakatan bersama di antara kedua pihak yang berkonflik melalui adanya pihak ketiga.
  • Arbitrasi, kedua pihak yang sedang mengalami sebuah konflik memiliki pihak ketiga untuk mengupayakan penyelesaian konflik. (baca juga: Syarat Terjadinya Interaksi Sosial)
  • Ajudikasi, konflik yang ada di selesaikan melalui jalur pengadilan.
  • Genjatan senjata, merupakan upaya penghentian konflik perperangan yang sudah terjadi dalam jangka wkatu yang lama sambil mencari jalan untuk berdamai.

Di Indonesia sendiri, tak hanya melalui perundingan saja, konflik dapat diselesaikan melalui penguatan dari peran lembaga pengendalian sosial. Hal ini agar tercipta keadilan di dalam masyarakat serta mencegah resiko dari ketidakadilan di dalam masyarakat.

Menurut George Simmel, sebuah konflik dapat dikatakan berakhir jika terjadi hal-hal berikut:

  • Kemenangan dari salah satu pihak yang berkaitan dengan konflik.
  • Adanya kompromi yang dilakukan pihak-pihak yang bersangkutan dengan konflik.
  • Rekonsiliasi
  • Kedua pihak yang bersangkutan sepakat untuk mengakhiri konflik yang sedang terjadi.
  • Kedua pihak saling memaafkan satu sama lainnya. (baca juga: Faktor Penghambat Perubahan Sosial Budaya)

Nah itu tadi bentuk-bentuk konflik sosial yang ada dengan contoh-contohnya yang sering terjadi di lingkungan sosial. Tentunya konflik-konflik sosial yang ada memiliki solusi tersendiri untuk mengatasinya. Jika segera tidak diatasi tentu saja akan menyebabkan permasalahan yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. Semoga informasi diatas dapat bermanfaat untuk anda.

Sponsors Link

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , ,
Post Date: Wednesday 26th, July 2017 / 03:25 Oleh :
Kategori : Sosiologi